You Are Reading

0

PENANTIAN RENATA

retha sii ubie Rabu, 27 Oktober 2010
“Maaf Ren, aku harus pergi. Tapi ini tidak akan lama, aku pasti akan kembali. Karena aku tahu kamu pasti menungguku.”

Bel istirahat telah berbunyi. Tapi Renata tetap tak bergeming dari tempatnya. Tanpa mempedulikan teman-temannya yang satu per satu mulai meninggalkan kelas, dia tetap duduk sambil terus melihat Hpnya.
“Woy Ren, ngapain kamu bengong disitu?” ujar seorang siswi yang berteriak dari pintu kelas Renata.
“Apaan sih, ngagetin tau. Sini masuk jangan malah gantian kamu yang bengong disitu. “ jawab Renata masih tetap tak henti-hentinya melihat Hpnya.
“Kamu nungguin sms Tio ya?” tanya siswi bernama Yana itu.
“Itu tau, ngapain nanya lagi?”
“Ya ampun Ren, ya udahlah ngga usah segitu seriusnya liat HP. Kamu aja yang sms, ngga ribet kan?”
“Ah gengsi tau. Dia aja ngga pernah sms, masa aku yang sms duluan? Aku kan bukan siapa siapa dia. Duuuh, nih anak udah dua minggu ngga ada kabar. Kemana sih.”
“Yang bikin ribet itu kamu sendiri. Makan tuh gengsi, uring-uringan sendiri kan jadinya?” cibir Yana, “Aku ke kantin dulu ya. Ntar pulangnya bareng yah. Dah.”
Setelah kepergian Yana, Renata akhirnya memasukkan HP ke sakunya. Dia hanya menghembuskan napas kecewa. Kecewa karena orang yang sudah berhari-hari ditunggu tak kunjung menghubunginya.
►☻_☺◄



Renata bangun dengan senyum di wajahnya. Semalam dia tidur larut malam karena sms-an dengan Tio. Dia teringat akan sms Tio yang membuatnya begitu bahagia.
“Tunggu aku ya Ren, Januari aku akan pulang dan bertemu denganmu. Aku akan mengungkapkan perasaanku langsung padamu.”
Di sekolah pun sikap Renata begitu ceria, dia tampak lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Bahkan saat istirahat pun dia mentraktir Yana di kantin. Tentu saja Yana yang sudah bersahabat sejak lama dengan Renata merasa heran.
“Ada kejadian apa antara kamu dan Tio, Ren?” tanya Yana .
“hehehe... kok kamu tahu sih Yan?” jawab Renata dengan senyum yang langsung mengembang di wajahnya.
“Aku ngga kenal kamu kemarin say. Kalo bukan Tio, siapa lagi yang bisa bikin kamu seaneh ini?” kata Yana sambil memakan bakso yang telah tersedia di depannya.
Renata kembali tersenyum lalu menunjukkan sms Tio pada Yana. Yana hanya tertawa mendengarkan cerita-cerita yang keluar dari mulut Renata tentang betapa senangnya dia ketika membaca sms itu.
►☻_☺◄



Sore itu Renata yang baru pulang sekolah langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur ber-bed cover warna cokelat miliknya. Dia memejamkan matanya, lalu mulai teringat akan awal pertemuannya dengan Tio.
Tio adalah kakak kelas Renata. Renata mengenalnya karena dulu Tio adalah kakak kelas yang begitu disukai oleh teman sekelasnya yang bernama Feby. Setiap hari Feby selalu bercerita tentang Tio padanya. Karena penasaran, Renata mencari tahu tentang Tio melalui Facebook. Mereka berteman, lalu sering saling mengirim wall dan sering saling comment. Pertemanan mereka tak hanya berlangsung di facebook, mereka bertemu langsung dan semakin dekat hingga suatu hari Tio mengaku bahwa dia menyukai Renata. Tapi Tio tidak meminta Renata menjadi pacarnya, Tio hanya mengakui perasaannya lewat HP.
Renata bangkit dari kasurnya lalu menuju jendela. Dia melihat Mamanya sedang sibuk menyiram bunga-bunga di halaman. Tapi tak ada sedikit pun niat untuk membantu mamanya. Mama Renata memang paling tidak suka jika hobi berkebunnya diganggu orang lain, bahkan oleh anaknya sendiri.
“hufft.. Kenapa aku ragu dengan perasaan Tio ya. Masa iya sih ada orang bilang suka tapi jarang menghubungi orang yang disukainya?” ujar Renata pelan, “Aku juga sudah mulai gila, masa aku suka orang sampai rela menunggu dan berharap sesuatu yang ngga jelas kaya gini.”
Sudah hampir tiga minggu sejak sms-an dengan Tio yang terakhir kalinya, Tio tidak pernah menghubungi Renata lagi. Entah apa yang dilakukan Tio, Renata hanya bisa menunggu Tio menghubunginya.
►☻_☺◄

“Reeeen...” Panggil Yana dari pintu kelas Renata.
“Apa? “ Tanya Renata sambil berjalan mendekati Yana.
“Eh itu, kamu udah buka facebook belum?” Tanya Yana dengan raut wajah yang aneh.
“Ada apa? Tumben kamu nanya-nanya Fbku?” Renata balik bertanya peda Yana.
“Ehmm, coba deh kamu buka FB trus liat Fbnya Tio.” Ujar Yana sambil menyeret Renata ke arah taman sekolah.
Renata menuruti kata-kata Yana, segera saja dia mengambil HP kemudian loggin ke Facebooknya dan membuka facebook milik Tio. Mendadak ekspresi Renata berubah. Renata memandangi Yana dengan ekspresi yang susah diartikan.
“Ini beneran ya Yan?” tanya Renata.
“Ehmm, aku rasa beneran Ren. Tadi aku udah nyari tau dan ternyata itu memang benar-benar terjadi.” Jawab Yana sambil memegang tangan Renata.
“Aku susah percaya Ren, masa dia... masa dia setega itu padaku? Ngga mungkin kan dia beneran udah punya pa... pacar?” Tanya Renata sambil tertawa dengan ekspresi muka yang berlawanan dengan tawa yang keluar dari mulutnya.
“Sabar ya Ren..” jawab Renata tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan sahabatnya itu.
“Hahaha.... bego banget ya aku mau mau aja dikibulin Tio. Liat nih Ren, ceweknya cantik yah. Ya pantaslah Tio suka, aku ngga ada apa-apanya sih.” Ujar Renata dengan tawa yang semakin keras, “Tunggu Yan, aku mau sms Tio dulu.”
“Buat apa sms dia Ren? Ngga usahlah, ngga penting tau.” Kata Yana .
“Penting Yan, ini demi hatiku. Agar aku mendapat kepastian.” Jawab Renata terdengar tak yakin dengan kata-katanya.

“Maaf Ren, aku hanya bisa minta maaf. Aku merasa kamu semakin hari semakin menjauh dariku. Di sini aku butuh orang yang bisa mendampingiku belajar Ren, dan itu bukan kamu. Aku memang menyayangimu dulu, tapi aku ngga tau kenapa waktu dan keadaan bisa mengubahnya. Maaf Ren, maaf banget.”


Begitu membaca balasan sms Tio, dinding pertahanan Renata roboh. Perlahan air mata menetes dari kedua matanya. Penantian dan semua harapannya sirna begitu saja. Renata menatap Yana dengan nanar, dan berkata.
“Benar-benar indah ya.. hati yang kubuka untuknya, telah dia tutup. Dia yang memintaku tuk mulai percaya pada yang namanya cinta, tapi dia juga yang membuatku semakin tak ingin jatuh cinta.” Kata Renata sambil tersenyum.
“Sabar Ren, dia bukan untukmu. Biarkan dia pergi, jadikan ini pelajaran agar kamu tak semudah ini lagi tuk percaya pada cowok yang ngga kamu kenal dengan baik. Okee?” ujar Yana.
“Inilah akhir penantianku.. benar-benar indah..” kata Renata tak bisa lagi meneruskan kata-katanya.
Renata menangis melampiaskan sesak di dadanya. Di samping Renata, Yana terdiam sambil memeluknya. Akhir penantian Renata berakhir dengan tangisan yang jarang keluar dari matanya.
►☻_☺◄

*pesan: jangan mudah percaya dengan orang yang hanya kamu kenal lewat dunia maya, jika kamu terlanjur menyukainya, cari tahu lebih banyak tentangnya. Okeeeeeee??????????????

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2010 rey_thaa