Siang itu Nindy pulang sekolah dengan cemberut. Dia benar-benar tidak habis pikir, apa sih menariknya hari valentine. Teman-temannya sangat menantikan hari kasih sayang itu dan rela membuang uangnya untuk membeli cokelat, boneka, atau bunga untuk diberikan kepada orang yang spesial. Nindy bukan iri karena hanya mendapat cokelat dari sahabatnya, tetapi Karena ada sesuatu yang membuatnya membenci valentine. Sesuatu yang hanya dirinya sendiri yang tau.
“Eh Ren, valentine ini kamu diajak ke mana sama si Putra?”
“Tau nih. Putra bilangnya ada surprise buatku. Jadi nggak sabar nunggu valentine.”
“Sama dong. Aku juga ada………….”
Nindy mencibir mendengar percakapan cewek-cewek itu. Dia muak dengan tema yang mereka bicarakan. Lagi-lagi tentang valentine. Andai dia bisa menghilangkan hari valentine itu, pasti dunia akan terasa damai.
“Nin, napa sih kamu benci banget ma valentine? Padahal itu kan hari istimewa yang cuma setahun sekali. Kita bisa dapet perhatian lebih, dapet hadiah, terus da…………..”
“Minnie sayang, udah dong. Telingaku ini alergi denger kata itu. Jangan bikin aku tambah kesel deh!” Ujar Nindy memotong pembicaraan Minnie, sahabatnya.
“Oke tuan putri. Tapi nggak benci valentine Cuma gara-gara jomblo kan?”
“Ya nggak lah. Aku masih suka ngejomblo. Nggak kaya kamu yang hobinya gonta-ganti cowok”
“Kapan sih kamu bakal sembuh dari free syndrome mu itu?” Ledek Minnie.
Free syndrome adalah sebutan Minnie untuk Nindy yang hingga detik ini belum pernah pacaran sekali pun. Bukan berarti Nindy nggak laku. Ada beberapa cowok yang mendekatinya bahkan menembaknya. Tetapi semua ditolak olehnya. Nindy memang manis apalagi jika dia tersenyum tampaklah lesung pipi dikedua pipinya. Rambutnya yang hanya sebahu dengan poni menambah fresh penempilannya. Berbeda dengan Minnie yang cantik dan sangat feminine, Nindy malah cenderung imut. Orang yang belum mengenalnya pasti akan mengira dia masih SMP, padahal dia sudah kelas 2 SMA.
“Eh, sudah pulang Nin. Tumben cepat.” Tanya mamanya.
“Tadi guru-guru ada rapat, jadi pulangnya cepet.” Jawab Nindy tanpa melihat mamanya.
Nindy langsung menuju kamarnya dan berbaring di kasurnya setelah melempar tas sekolahnya. Dia memejamkan mata. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
Esok harinya, Minnie menyeret Nindy ke Taman Sekolahnya. Pada pagi hari kondisi Taman memang tak begitu ramai, hanya ada tukang kebun dan dua orang cewek yang asyik membaca noveldi situ.
“Apa sih Min? Nyeret-nyeret kaya kambing gini.” Protes Nindy cemberut.
“Udah dua tahun aku jadi sahabatmu, tapinaku nggak tau apa-apa tentang kamu. Bahkan alasan kamu benci valentine aja aku nggak tau. Kamu nggak nganggep aku sahabat ya?”
“Kamu ngomong apa sih Min.” jawab Nindy sambil tertawa. Tapi ketika melihat ekspresi serius Minnie, Nindy menghentikan tawanya, “You’re my bestfriend Min.”
“Kalo gitu cerita dong alasanmu benci valentine.”
Nindy menghela nafas. Sesuatu yang selama ini tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain ini terasa berat untuk diceritakan. Tetapi ketika melihat Minnie, Nindy berpikir tidak ada salahnya membagi cerita ini dengan sahabatnya. Pikiran Nindy mengembara ke masa itu, 4 tahun yang lalu.
Hari itu Nindy pulang dengan wajah berseri-seri. Nanti malam untuk pertama kalinya dia akan hang out bareng teman-temannya buat ngerayain valentine. Apalagi Ayah dan Bundanya akan pulang malam karena mereka berdua akan merayakan valentine sekalian mengenang hari bertemunya mereka. Dasar sok romantis. Segera saja Nindy memilih-milih baju yang akan dia pakai.
Ketika sedang memasang sepatu, telepon rumahnya bordering. Dengan cemberut dia mengangkat telepon itu. Mendadak raut mukanya berubah. Wajahnya yang semula berseri-seri berubah menjadi pucat pasi. Kedua orangtuanya mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju restoran. Nyawa Bundanya tidak bisa diselamatkan lagi. Bundanya meninggal pada hari valentine dan pada saat akan merayakan valentine. Hari seharusnya dia mendapat kasih sayang berubah menjadi kehilangan kasih sayang. Dua tahun kemudian Ayahnya menikah lagi dengan wanita yang menjadi mamanya sekarang juga tepat pada hari valentine. Tepat pada hari valentine juga dia mempunyai adik yang bernama Valen, yang menyebabkan perhatian ayahnya terbagi. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin dia dapat menyukai hari valentine.
Minnie yang mendengar cerita Nindy hanya terdiam dan tampak shock. Minnie tak menyangka sahabatnya yang selalu ceria itu menyimpan masalah yang sangat menyakitkan. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menghibur Nindy dan berusaha menghilangkan kabut di hati Nindy. Yah, dia percaya kabut itu pasti akan sirna dari hati Nindy suatu saat nanti.
You Are Reading
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Subscribe











0 komentar:
Posting Komentar