Berawal dari sebuah pertemuan yang memalukan, Karra dan Raya kini bersahabat. Mereka selalu bersama walaupun berbeda kelas. Saling terbuka dan jujur adalah motto dari persahabatan mereka. Sampai saat ini mereka jarang sekali bertengkar karena eratnya rasa persatuan mereka.
“Ray, kok akhir-akhir ini aku ngerasa temen-temen pada ngejauhin aku ya? Aku bingung deh, padahal kaya’nya aku nggak bikin masalah sama mereka.” Ujar Karra ketika mereka sedang makan di Kantin.
“Perasaan kamu aja kali Kar. Kan nggak mungkin semuanya kaya’ gitu. Mereka lagi badmood kali.” Jawab Raya sambil meminum jus apelnya.
‘Iya kali ya. Mungkin ini perasaanku aja.”
“Ya udah, balik yuk…. Udah mau bel nih.”
Hari minggu pun datang, hari paling menyenangkan bagi siapa saja termasuk Karra. Karra duduk di teras rumahnya sambil menunggu Dinda, tetangga sekaligus teman kelasnya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Ketika Karra sedang asyik melamun, Dinda datang.
“Hayo…. Ngelamunin siapa nih?” Kata Dinda dengan senyum nakal menghias wajahnya.
“Kamu Din, bikin kaget aja! Ditungguin daritadi malah nongol kaya’ hantu. Dasar….” Protes Karra sambil cemberut.
Mereka berdua masuk dan mulai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Setelah selesai, Karra dan Dinda duduk-duduk di Taman rumah Karra sambil bercerita tentang teman-teman sekolahnya. Karra menceritakan kepada Dinda tentang kegelisahannya akan teman-teman yang dia pikir mulai menjauhinya. Hal yang sama seperti yang dia ceritakan pada Raya.
“Kar, kamu sama Raya sahabatan sejak kapan?” Tanya Dinda dengan hati-hati.
“Udah lama sih. Kenapa?”
“Sorry ya Kar, kaya’nya Raya tuh bukan sahabat yang baik. Aku pernah dengar dia jelek-jelekin kamu sama teman-teman kelas kita.”
“Kamu jangan sembarangan Din! Raya nggak mungkin gituin aku. Aku kenal siapa dia!” ujar Karra dengan marah. Karra segera berlari meninggalkan Dinda yang menatapnya.
Sejak saat itu, Karra tidak pernah menyapa Dinda. Karra menganggap Dinda iri akan persahabatannya dengan Raya. Hingga suatu hari, ketika Karra hendak ke Toilet, Karra mendengar Raya bicara dengan teman-temannya.
“kamu tega juga ya Ray…. Jelek-jelekin Karra kaya’ gitu.” Ujar sebuah suara yang tidak dia kenal.
“Biarin aja deh! Aku nggak suka sama Karra. Aku mau jadi sahabat dia soalnya dia pintar dan cantik. Aku kan jadi untung. Nilai-nilaiku bagus dan aku jadi ikutan ngetop.” Kata Karra yang langsung disanbut gelak tawa oleh teman-temannya.
Mendengar itu, Karra hanya bisa terdiam. Selama ini ternyata apa yang dibilang Dinda itu benar. Karra segera berlari meninggalkan tempat itu. Dia berlari hingga menabrak seseorang yang ternyata adalah Dinda.
“Kenapa Kar? Kok mukamu pucat?” Tanya Dinda penuh perhatian.
Karra menceritakan semuanya pada Dinda. Dia sangat kecewa dengan semua itu. Karra menumpahkan semua kekesalannya pada Dinda. Dinda menghibur Karra dan berkata,
“Mungkin selama ini kamu nggak sadar gara-gara Raya baik di depanmu. Justru dengan kejadian ini kamu bisa tahu siapa yang benar-benar layak kamu jadikan sahabat. Sahabat bukan hal yang diucapkan dengan kata-kata aja, tetapi butuh kepercayaan. Kepercayaan dari dasar hati kita.”
Mendengar kata-kata Dinda, Karra tersenyum. Dia tahu kini siapa sahabat sejatinya. Siapa yang benar-benar peduli padanya. Bunga yang sempat layu kini telah mekar kembali di hatinya dan siap tuk menerima kehadiran sosok yang benar-benar pantas menjadi sahabatnya.
You Are Reading
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Subscribe











0 komentar:
Posting Komentar