“Maaf Ren, aku harus pergi. Tapi ini tidak akan lama, aku pasti akan kembali. Karena aku tahu kamu pasti menungguku.”
Bel istirahat telah berbunyi. Tapi Renata tetap tak bergeming dari tempatnya. Tanpa mempedulikan teman-temannya yang satu per satu mulai meninggalkan kelas, dia tetap duduk sambil terus melihat Hpnya.
“Woy Ren, ngapain kamu bengong disitu?” ujar seorang siswi yang berteriak dari pintu kelas Renata.
“Apaan sih, ngagetin tau. Sini masuk jangan malah gantian kamu yang bengong disitu. “ jawab Renata masih tetap tak henti-hentinya melihat Hpnya.
“Kamu nungguin sms Tio ya?” tanya siswi bernama Yana itu.
“Itu tau, ngapain nanya lagi?”
“Ya ampun Ren, ya udahlah ngga usah segitu seriusnya liat HP. Kamu aja yang sms, ngga ribet kan?”
“Ah gengsi tau. Dia aja ngga pernah sms, masa aku yang sms duluan? Aku kan bukan siapa siapa dia. Duuuh, nih anak udah dua minggu ngga ada kabar. Kemana sih.”
“Yang bikin ribet itu kamu sendiri. Makan tuh gengsi, uring-uringan sendiri kan jadinya?” cibir Yana, “Aku ke kantin dulu ya. Ntar pulangnya bareng yah. Dah.”
Setelah kepergian Yana, Renata akhirnya memasukkan HP ke sakunya. Dia hanya menghembuskan napas kecewa. Kecewa karena orang yang sudah berhari-hari ditunggu tak kunjung menghubunginya.
►☻_☺◄
Archives
0
Geje Story
retha sii ubie
Rabu, 06 Oktober 2010
Tiba-tiba dia datang dan selalu ada di tiap hariku. Meskipun tiap hari yang aku lalui dengannya hanya dipenuhi dengan hal-hal yang ngga jelas, tapi aku menikmatinya. Well, sebenarnya ngga selalu ngga jelas sih. Terkadang ada juga pembicaraan yang serius. Tapi itu hanya bertahan beberapa menit. Menit-menit berikutnya pasti diisi dengan hal yang ngga jelas lagi. Selalu ada topik yang dibahas, walaupun sering juga malah bingung mau bahas tentang apa. Kadang kehadirannya terlihat biasa saja, karena dia terlalu sering datang di hari-hariku. Tapi kadang ketidakhadirannya malah menimbulkan tanya bagiku.
Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan. Begitu pula dengannya. Karena keisengannya (entahlah apakah dia iseng atau memang niat), dia terjebak dalam permainannya sendiri. Dia harus membuat suatu keputusan untuk menuntaskan permainannya itu. Dan dia benar-benar melaksanakan keputusan itu. Keputusan yang tidak masuk akal bagiku. Tapi tak ada niat sedikit pun untuk mencegah dia melaksanakan keputusannya itu. Manusia punya pilihan, dan dia sudah memilih. Maka dia pun harus manjalani pilihannya. Hidupnya adalah sepenuhnya miliknya. Dialah yang mempunyai hak penuh untuk memilih dan menjalaninya.
Manusia memang tak pernah luput dari kesalahan. Begitu pula dengannya. Karena keisengannya (entahlah apakah dia iseng atau memang niat), dia terjebak dalam permainannya sendiri. Dia harus membuat suatu keputusan untuk menuntaskan permainannya itu. Dan dia benar-benar melaksanakan keputusan itu. Keputusan yang tidak masuk akal bagiku. Tapi tak ada niat sedikit pun untuk mencegah dia melaksanakan keputusannya itu. Manusia punya pilihan, dan dia sudah memilih. Maka dia pun harus manjalani pilihannya. Hidupnya adalah sepenuhnya miliknya. Dialah yang mempunyai hak penuh untuk memilih dan menjalaninya.
0
2 hour
retha sii ubie
Akhirnya penantianku berakhir. Istirahat telah datang. Aku segera berlari menuju kelasnya. Ketika aku melihat dia, tanpa dikomando air mataku langsung mengalir dengan derasnya. Tentu saja raut bingung terlihat dengan jelas di matanya. Dia menuntunku ke samping kelasnya dan membiarkan aku menangis. Tapi karena aku tak kunjung berhenti, akhirnya dia membawaku ke Mushalla. Entah apa tujuannya membawaku ke sana, mungkin dia pikir tempat itu akan menghentikan tangisanku. Tapi pikirannya salah, aku tetap tak bisa menghentikan tangis ini.
“kamu kenapa Mar?”
Pertanyaan yang daritadi dia tanyakan masih belum bisa aku jawab. Aku benar-benar tak bisa menghentikan tangis sia-sia ini. Hingga bel berbunyi, yang menandakan istirahat 15 menit itu telah berakhir aku tetap tak bergeming dari tempatku. Lagi-lagi dia yang membawaku pergi dari situ. Kini dia membawaku ke UKS. Dia rela tidak mengikuti pelajaran berikutnya hanya untuk menemaniku, padahal dia pun masih ada ulangan jam terakhir nanti.
“kamu kenapa Mar?”
Pertanyaan yang daritadi dia tanyakan masih belum bisa aku jawab. Aku benar-benar tak bisa menghentikan tangis sia-sia ini. Hingga bel berbunyi, yang menandakan istirahat 15 menit itu telah berakhir aku tetap tak bergeming dari tempatku. Lagi-lagi dia yang membawaku pergi dari situ. Kini dia membawaku ke UKS. Dia rela tidak mengikuti pelajaran berikutnya hanya untuk menemaniku, padahal dia pun masih ada ulangan jam terakhir nanti.
0
Kehilangan
retha sii ubie
Kata-kata itu akan membuatmu berpikir bahwa ada benda yang hilang darimu, benar kan? (well di sini anggap saja manusia adalah benda, human is noun, isn’t it?). Pernahkah terpikirkan olehmu bahwa tiap hari kamu selalu kehilangan? Misalnya saja kehilangan kesempatan berbuat baik, kehilangan waktu, dan kehilangan umur. Mungkin itu semua terlihat sepele bagimu. Tapi kehilangan itu semua jauh lebih menakutkan daripada sekedar kehilangan tas, kehilangan dompet atau bahkan kehilangan pacar.
Berbuat baik memang mudah dan dapat dilakukan dimana pun. Tapi jika kamu tak pernah menyadari bahwa setiap hari yang kamu lalui itu tak pernah kamu gunakan untuk berbuat baik, untuk apa kamu hidup? Tanpa kamu sadari, jika setiap hari kamu lalui tanpa berbuat baik itu akan menambah persentase sisi jahat kamu kan?
Berbuat baik memang mudah dan dapat dilakukan dimana pun. Tapi jika kamu tak pernah menyadari bahwa setiap hari yang kamu lalui itu tak pernah kamu gunakan untuk berbuat baik, untuk apa kamu hidup? Tanpa kamu sadari, jika setiap hari kamu lalui tanpa berbuat baik itu akan menambah persentase sisi jahat kamu kan?
0
Damn Holiday in Water Park
retha sii ubie
Aku teringat akan pengalaman liburanku di Sidoarjo beberapa bulan yang lalu. Hari itu, aku dan keluargaku pergi ke Water Park Sidoarjo. Kami sepedamotoran ka sana. Perjalanannya memang hanya beberapa menit, tapi beberapa menit itu membuatku sangat capek. Bagaimana tidak? Sambil menggendong ransel yang berisi seperangkat peralatan renang yang begitu berat, keponakanku tidur dan aku harus menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sungguh perjalanan itu terasa lama bagiku.
Ketika sudah sampai, aku merasa itu adalah hal terindahyang aku rasakan hari itu. Kami membeli tiket yang harganya 4 kali harga tiket masuk srikandi (kolam renang di Sumenep yang digunakan untuk berenang saat pelajaran renang di SMAku), kemudian menuju ruang ganti dan mulai mengganti baju. Aku dan saudaraku tidak memakai baju renang, kami hanya menggunakan kaos dan calena pendek.
Ketika sudah sampai, aku merasa itu adalah hal terindahyang aku rasakan hari itu. Kami membeli tiket yang harganya 4 kali harga tiket masuk srikandi (kolam renang di Sumenep yang digunakan untuk berenang saat pelajaran renang di SMAku), kemudian menuju ruang ganti dan mulai mengganti baju. Aku dan saudaraku tidak memakai baju renang, kami hanya menggunakan kaos dan calena pendek.
0
MEKARNYA BUNGA HATI
retha sii ubie
Berawal dari sebuah pertemuan yang memalukan, Karra dan Raya kini bersahabat. Mereka selalu bersama walaupun berbeda kelas. Saling terbuka dan jujur adalah motto dari persahabatan mereka. Sampai saat ini mereka jarang sekali bertengkar karena eratnya rasa persatuan mereka.
“Ray, kok akhir-akhir ini aku ngerasa temen-temen pada ngejauhin aku ya? Aku bingung deh, padahal kaya’nya aku nggak bikin masalah sama mereka.” Ujar Karra ketika mereka sedang makan di Kantin.
“Perasaan kamu aja kali Kar. Kan nggak mungkin semuanya kaya’ gitu. Mereka lagi badmood kali.” Jawab Raya sambil meminum jus apelnya.
‘Iya kali ya. Mungkin ini perasaanku aja.”
“Ya udah, balik yuk…. Udah mau bel nih.”
Hari minggu pun datang, hari paling menyenangkan bagi siapa saja termasuk Karra. Karra duduk di teras rumahnya sambil menunggu Dinda, tetangga sekaligus teman kelasnya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Ketika Karra sedang asyik melamun, Dinda datang.
“Hayo…. Ngelamunin siapa nih?” Kata Dinda dengan senyum nakal menghias wajahnya.
“Kamu Din, bikin kaget aja! Ditungguin daritadi malah nongol kaya’ hantu. Dasar….” Protes Karra sambil cemberut.
“Ray, kok akhir-akhir ini aku ngerasa temen-temen pada ngejauhin aku ya? Aku bingung deh, padahal kaya’nya aku nggak bikin masalah sama mereka.” Ujar Karra ketika mereka sedang makan di Kantin.
“Perasaan kamu aja kali Kar. Kan nggak mungkin semuanya kaya’ gitu. Mereka lagi badmood kali.” Jawab Raya sambil meminum jus apelnya.
‘Iya kali ya. Mungkin ini perasaanku aja.”
“Ya udah, balik yuk…. Udah mau bel nih.”
Hari minggu pun datang, hari paling menyenangkan bagi siapa saja termasuk Karra. Karra duduk di teras rumahnya sambil menunggu Dinda, tetangga sekaligus teman kelasnya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Ketika Karra sedang asyik melamun, Dinda datang.
“Hayo…. Ngelamunin siapa nih?” Kata Dinda dengan senyum nakal menghias wajahnya.
“Kamu Din, bikin kaget aja! Ditungguin daritadi malah nongol kaya’ hantu. Dasar….” Protes Karra sambil cemberut.
0
Rahasia Valentine Nindy
retha sii ubie
Siang itu Nindy pulang sekolah dengan cemberut. Dia benar-benar tidak habis pikir, apa sih menariknya hari valentine. Teman-temannya sangat menantikan hari kasih sayang itu dan rela membuang uangnya untuk membeli cokelat, boneka, atau bunga untuk diberikan kepada orang yang spesial. Nindy bukan iri karena hanya mendapat cokelat dari sahabatnya, tetapi Karena ada sesuatu yang membuatnya membenci valentine. Sesuatu yang hanya dirinya sendiri yang tau.
“Eh Ren, valentine ini kamu diajak ke mana sama si Putra?”
“Tau nih. Putra bilangnya ada surprise buatku. Jadi nggak sabar nunggu valentine.”
“Sama dong. Aku juga ada………….”
Nindy mencibir mendengar percakapan cewek-cewek itu. Dia muak dengan tema yang mereka bicarakan. Lagi-lagi tentang valentine. Andai dia bisa menghilangkan hari valentine itu, pasti dunia akan terasa damai.
“Nin, napa sih kamu benci banget ma valentine? Padahal itu kan hari istimewa yang cuma setahun sekali. Kita bisa dapet perhatian lebih, dapet hadiah, terus da…………..”
“Minnie sayang, udah dong. Telingaku ini alergi denger kata itu. Jangan bikin aku tambah kesel deh!” Ujar Nindy memotong pembicaraan Minnie, sahabatnya.
“Oke tuan putri. Tapi nggak benci valentine Cuma gara-gara jomblo kan?”
“Ya nggak lah. Aku masih suka ngejomblo. Nggak kaya kamu yang hobinya gonta-ganti cowok”
“Kapan sih kamu bakal sembuh dari free syndrome mu itu?” Ledek Minnie.
Free syndrome adalah sebutan Minnie untuk Nindy yang hingga detik ini belum pernah pacaran sekali pun. Bukan berarti Nindy nggak laku. Ada beberapa cowok yang mendekatinya bahkan menembaknya. Tetapi semua ditolak olehnya. Nindy memang manis apalagi jika dia tersenyum tampaklah lesung pipi dikedua pipinya. Rambutnya yang hanya sebahu dengan poni menambah fresh penempilannya. Berbeda dengan Minnie yang cantik dan sangat feminine, Nindy malah cenderung imut. Orang yang belum mengenalnya pasti akan mengira dia masih SMP, padahal dia sudah kelas 2 SMA.
“Eh, sudah pulang Nin. Tumben cepat.” Tanya mamanya.
“Tadi guru-guru ada rapat, jadi pulangnya cepet.” Jawab Nindy tanpa melihat mamanya.
Nindy langsung menuju kamarnya dan berbaring di kasurnya setelah melempar tas sekolahnya. Dia memejamkan mata. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
“Eh Ren, valentine ini kamu diajak ke mana sama si Putra?”
“Tau nih. Putra bilangnya ada surprise buatku. Jadi nggak sabar nunggu valentine.”
“Sama dong. Aku juga ada………….”
Nindy mencibir mendengar percakapan cewek-cewek itu. Dia muak dengan tema yang mereka bicarakan. Lagi-lagi tentang valentine. Andai dia bisa menghilangkan hari valentine itu, pasti dunia akan terasa damai.
“Nin, napa sih kamu benci banget ma valentine? Padahal itu kan hari istimewa yang cuma setahun sekali. Kita bisa dapet perhatian lebih, dapet hadiah, terus da…………..”
“Minnie sayang, udah dong. Telingaku ini alergi denger kata itu. Jangan bikin aku tambah kesel deh!” Ujar Nindy memotong pembicaraan Minnie, sahabatnya.
“Oke tuan putri. Tapi nggak benci valentine Cuma gara-gara jomblo kan?”
“Ya nggak lah. Aku masih suka ngejomblo. Nggak kaya kamu yang hobinya gonta-ganti cowok”
“Kapan sih kamu bakal sembuh dari free syndrome mu itu?” Ledek Minnie.
Free syndrome adalah sebutan Minnie untuk Nindy yang hingga detik ini belum pernah pacaran sekali pun. Bukan berarti Nindy nggak laku. Ada beberapa cowok yang mendekatinya bahkan menembaknya. Tetapi semua ditolak olehnya. Nindy memang manis apalagi jika dia tersenyum tampaklah lesung pipi dikedua pipinya. Rambutnya yang hanya sebahu dengan poni menambah fresh penempilannya. Berbeda dengan Minnie yang cantik dan sangat feminine, Nindy malah cenderung imut. Orang yang belum mengenalnya pasti akan mengira dia masih SMP, padahal dia sudah kelas 2 SMA.
“Eh, sudah pulang Nin. Tumben cepat.” Tanya mamanya.
“Tadi guru-guru ada rapat, jadi pulangnya cepet.” Jawab Nindy tanpa melihat mamanya.
Nindy langsung menuju kamarnya dan berbaring di kasurnya setelah melempar tas sekolahnya. Dia memejamkan mata. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
Langganan:
Komentar (Atom)
Subscribe










