Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu. Mereka dengan teganya membuangku hanya karena alasan sepele, takut mengganggu kedamaian mereka. Mereka tega memisahkanku dari keluargaku, tak sedikit pun mereka peduli akan nasib yang akan aku jalani tanpa keluargaku. Mereka membawaku ke tempat yang asing ini, lalu meninggalkanku sendiri di tempat sedingin ini tanpa bekal apa pun. Aku terpaksa berjalan mencari sesuatu yang bisa kumakan, mencari sesuatu untuk menyambung hidupku. Aku melihat lalu lalang orang berjalan di depanku. Aku berharap ada sedikit saja belas kasihan di hati mereka untuk membawaku atau bahkan mengulurkan tangan tuk sekedar memberiku sesuatu yang mampu membuatku bertahan hidup, yaitu makanan.
Kulihat seorang gadis mungil melihatku lalu berjalan ke arahku. Timbullah sedikit harapan itu. Gadis itu mulai mendekat dan semakin dekat. Tapi detik berikutnya yang kurasakan hanyalah kekecewaan. Dia tidak mendatangiku, dia menuju temannya yang menunggu di belakangku. Aku mulai mempertanyakan, apa arti rasa kemanusiaan yang begitu diagung-agungkan oleh orang-orang. Kenapa bicara mereka begitu yakin bahwa mereka punya rasa kemanusiaan? Sementara sejak kemarin aku di sini, tak ada yang mempedulikanku. Ternyata bicara itu tak semudah mempraktikkannya.
Aku berjalan lagi menuju keramaian yang terlihat di depanku dengan harapan yang sama. Aku melihat seorang nenek kerepotan membawa belanjaannya, tapi tak ada satu pun dari orang-orang itu yang berniat membantunya. Kemana keluarga nenek itu yang dengan teganya membiarkan si nenek berbelanja sebanyak itu sendirian. Entahlah, aku tak mengerti jalan pikiran orang-orang.
Sejenak pandangan mataku tertuju pada benda-benda yang tergeletak di depanku. Aku mencium aroma makanan dari tumpukan benda itu. Segera saja aku berlari untuk memastikan benarkah penciumanku ini. Ternyata benar, di samping tumpukan benda itu tersapat sisa-sisa nasi yang sepertinya belum lama dibuang. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Aku menciumi makanan itu dan perlahan mulai memakannya. Hari ini aku bersyukur mendapat sesuatu untuk mengganjal perutku. Tapi bagaimana dengan hari esok? Akankah aku mendapat keberuntungan lagi? Ah biarlah. Hari esok akan aku pikirkan esok hari. Hari ini aku akan memikirkan apa yang akan aku perbuat untuk hari ini. Hidup tak perlu ribet bukan?
Aku berjalan lagi menuju toko yang tak begitu ramai dikunjungi pembeli. Tak ada sedikit pun niatku untuk memasuki toko itu. Aku hanya berjalan ke samping toko itu untuk sekedar beristirahat, untuk melepas penatku yang mendalam. Teringat olehku betapa kejamnya orang yang memisahkanku dari keluargaku, bahkan saat aku masih sekecil ini. Tak bisakah mereka menungguku sedikit lebih besar terlebih dahulu baru kemudian membuangku. Jika aku sedikit lebih besar, aku pasti lebih siap menghadapi kejamnya dunia ini. Tapi apa dayaku? Aku hanya bisa berharap datangnya keberuntungan dalam hidupku, karena aku hanyalah seekor kucing mungil yang terbuang.
You Are Reading
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Subscribe











0 komentar:
Posting Komentar