Akhirnya penantianku berakhir. Istirahat telah datang. Aku segera berlari menuju kelasnya. Ketika aku melihat dia, tanpa dikomando air mataku langsung mengalir dengan derasnya. Tentu saja raut bingung terlihat dengan jelas di matanya. Dia menuntunku ke samping kelasnya dan membiarkan aku menangis. Tapi karena aku tak kunjung berhenti, akhirnya dia membawaku ke Mushalla. Entah apa tujuannya membawaku ke sana, mungkin dia pikir tempat itu akan menghentikan tangisanku. Tapi pikirannya salah, aku tetap tak bisa menghentikan tangis ini.
“kamu kenapa Mar?”
Pertanyaan yang daritadi dia tanyakan masih belum bisa aku jawab. Aku benar-benar tak bisa menghentikan tangis sia-sia ini. Hingga bel berbunyi, yang menandakan istirahat 15 menit itu telah berakhir aku tetap tak bergeming dari tempatku. Lagi-lagi dia yang membawaku pergi dari situ. Kini dia membawaku ke UKS. Dia rela tidak mengikuti pelajaran berikutnya hanya untuk menemaniku, padahal dia pun masih ada ulangan jam terakhir nanti.
Setelah lama saling terdiam, aku tahu dia masih menantikan kata-kata yang akan keluar dari mulutku. Aku mulai mengatur nafas dan kemudian mengalirlah semua cerita itu, semua beban yang telah cukup lama kusimpan.
Dia benar-benar bisa membuatku lega. Entah aku lega karena aku puas menangis atau karena aku telah menceritakan semua bebanku atau karena mendengar kata-kata darinya, yang jelas aku benar-benar merasa lega. 2 jam yang harusnya aku habiskan untuk berkutat mengerjakan LKS PKN itu malah aku habiskan untuk menenangkan diriku. 2 jam penuh air mata yang berakhir dengan senyuman.
*makasi iaa udaa dgn ikhlas’y nmenin ‘n bkin Q lega.. U’re really my best friend...
You Are Reading
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Subscribe











0 komentar:
Posting Komentar